Rabu, 14 Agustus 2019

Mengajak Kebaikan Terhadap Sesama



Mengajak Kebaikan Terhadap Sesama
Mahfud Ifendi


Ketahuilah bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah pokok agama. Ia adalah pekerjaan para Nabi, dan para khalifah telah menggantikan mereka dalam tugas tersebut. Seandainya ia tidak ada, niscaya kebodohan akan tersebar dan ilmu menjadi sia-sia.
Allah berfirman dalam surat Attaubah ayat 71:
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ
Artinya ”dan orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, sebagian mereka penolong bagi sebagian yang lain, mereka memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran”

Imam Ghazali berkata: ayat tersebut memberikan pengertian bahwa orang yang tidak menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar akan keluar dari golongan orang-orang mukmin.
Muhammad Bin Abdul Baqi al-Bazzar telah mengabarkan kepada kami bahwa dengan sanadnya dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Sungguh kalian memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau allah akan menguasakan orang-orang jahat dari kalian atas orang-orang yang terpilih dari kalian. Lalu orang-orang yang terpilih dari kalian berdoa dan tidak dikabulkan.”
Mengajak kebaikan terhadap sesama dan mencegah sesuatu yang mungkar adalah wajib bagi makhluk dan tiap muslim. Dari Abu Sa’id , dari Rasulullah SAW bersabda, “ Siapa dari kalian yang melihat kemungkaran, lalu ia mampu mengubah dengan tangannya, maka hendaknya ia melakukannya. Jika ia tidak mampu dengan tangannya, maka dengan lisannya. Bila ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.”
Oleh karena itu kita sebagai muslim yang baik sudah sewajarnya untuk selalu mengajak kebaikan kepada sesama. Seseorang seharusnya ingkar terhadap kemungkaran dengan tangan, bila tidak mampu maka cukup dengan lidah. Bila ada orang yang mampu menghentikan kemungkaran dengan tangan dan satunya lagi mampu menghentikannya dengan lidah maka bagi yang pertama diwajibkan bertindak sehingga menghentikannya dengan tangannya. Bagi orang yang masih mampu menghentikan kemungkaran dengan tangan tidak diperbolehkan menghentikannya dengan lidah. Untuk yang terakhir, ingkar dengan hati merupakan kewajiban bagi orang mukallaf, tidak boleh dilepaskan sama sekali. Bahkan ada segolongan ulama termasuk Imam Ahmad Berpendapat: “Tidak ingkar terhadap kemungkaran dengan hati adalah perbuatan kufur”.
Al-Qurthubi berkata: “Allah menjadikan amar ma’ruf dan nahi mungkar sebagai perbedaan antara orang-orang Mukmin yang sejati dan orang-orang munafik.”
Selanjutnya, seyogyanya orang yang amar ma’ruf harus bersikap lemah lembut, karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam QS. Thaaha ayat 44:

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ 
Artinya “Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fira’un)  dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut.”

Firman Allah di atas mensinyalir kita bahwa dalam menyampaikan kebaikan, bahkan ketika kita menghadapi musuh sekalipun, harus menggunakan etika yang baik, sopan santun dalam menyampaikan. Bukan sebaliknya, mengajak berbuat baik kepada sesama, namun dengan cara-cara yang arogan, keras dan kurang beretika.
Dan sudah menjadi keharusan bahwa orang yang memerintahkan kebaikan harus menjaga diri dari apa yang dicegahnya dan melakukan apa yang diperintahkannya. Artinya, ketika salah satu di antara kita menyuruh untuk berbuat baik, sudah barang tentu kita lebih dahulu melakukannya. Jika kita melarang sesuatu untuk tidak dikerjakan, maka kita harus terlebih dahulu tidak mengerjakannya.  
Abdul Awwal telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Umamah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat didatangkan seorang laki-laki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia berputar-putar seperti keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk neraka berkumpul mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, ‘Wahai fulan, apa yang terjadi padamu? Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?’ Dia menjawab, ‘Benar. Aku dahulu memang memerintahkan yang ma’ruf tapi aku tidak melaksankannya. Aku juga melarang yang mungkar tetapi aku justru melakukannya.”

Inti dari sabda Nabi di atas, tentunya dapat kita jadikan pedoman bahwa dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar terlebih dahulu kita membersihkan jiwa dan hati, agar apa yang akan kita ucapkan kepada sesama, semuanya sudah terimplementasi dengan baik pada diri kita sebelumnya.
Perbuatan Baik Bisa Memperpanjang Umur
Dari Rafi’ Bin Makits, Rasulullah SAW bersabda: “Akhlak yang bagus itu akan membawa keberkahan, sedangkan akhlak yang buruk akan membawa caci maki dan cercaan. Kebaikan akan menambah umur dan sedekah akan menghalangi orang mati dalam keadaan yang jelek (su’ul khotimah).” (HR Ahmad).

Dalam hadits ini disampaikan rahasia besar segala kebaikan. Bahwa kebaikan, apapun bentuknya, bisa memperpanjang umur. Di samping itu, hadits ini pun seakan menjelaskan bahwa yang dimaksud pemanjangan umur adalah pemanjangan maknawi. Artinya pemanjangan umur bukan penundaan ajal. Sebab, ajal tidak bisa ditunda atau dimajukan; tiada yang berubah melainkan bertambahnya keberkahan umur tersebut. Seperti halnya malam Lailatul Qadr, yang hitungan harinya hanya satu malam, namun keberkahan dan makna kebaikan dari malam itu sama dengan nilai kebaikan seribu bulan.
Senang Pada Kebaikan Dan Pelaku Kebaikan
            Dari Anas Bin Malik, aku melihat para sahabat Rasulullah SAW menyenangi sesuatu yang lebih daripada itu. (tentang hal ini) seseorang bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, ada seseorang mencintai orang karena amal kebaikan yang dikerjakannya, padahal dia sendiri tidak mengerjakannya.’ Beliau Nabi bersabda: ‘Seseorang bersama orang yang dicintainya.” (HR. Abu Dawud)

Sesungguhnya setiap manusia mencintai kebaikan. Tidak ada manusia yang suka pada keburukan. Kalaupun ada manusia yang tergelincir pada lembah keburukan, lebih disebabkan karena faktor-faktor yang bersifat eksternal. Hati nuraninya (faktor internalnya) terus mengikatnya agar mencintai dan mengerjakan kebaikan. Tarik menarik inilah yang berkecamuk dalam diri setiap insan.
Karenanya, setiap manusia harus memupuk fitrah mencintai kebaikan itu. Tanpa pemupukan yang memadai, sulit diharapkan bunga fitrah itu bisa tumbuh subur. Namun, ketika seseorang tidak bisa merawatnya dan mengerjakan perbuatan baik secara paripurna, minimal dia harus mencintai orang yang melakukan perbuatan baik. Sebab, siapapun yang berdekatan dan  bergaul dengan orang baik, manfaat dari pergaulan tersebut bisa kembali pada dirinya sendiri.
Melalui hadits di atas, Rasulullah SAW menegaskan, kalaupun seseorang tidak mengerjakan perbuatan baik, setidaknya dia bisa terus menjaga kedekatannya dengan orang baik. Dengan begitu, diharapkan dia bisa tertular menjadi baik, atau setidaknya terangkat statusnya disebabkan keintimannya dengan orang baik tersebut.
Bagi para pemuda, dunia pergaulan di abad modern yang kerap kali menyeretnya dalam lembah hitam hendaknya perlu diwaspadai. Salah satu strategi membentengi diri agar tidak larut dalam arus pergaulan negatif yang begitu deras yakni dengan merawat keakraban dengan orang-orang baik, baik dalam urusan hal ini adalah Ulama’, Ustadz, Guru, dan para arif bijaksana. Bersama mereka, kita akan mampu memagari diri dari pengaruh-pengaruh nista.
Bersegera Dan Berusaha Semaksimal Mungkin Dalam Kebaikan
            Abdullah bin amr berkata, aku mengumpulkan al-Qur’an dan membacanya sampai khatam dalam waktu semalam. Rasulullah Saw bersabda: “Aku khawatir umurmu PANJANG dan engkau merasa bosan. Maka sekarang khatamkanlah al-Qur’an itu dalam waktu sebulan”. Aku menjawab: “Berikanlah lebih, karena aku masih kuat dan muda”. Beliau menjawab: “Baiklah, khatamkanlah dalam waktu sepuluh hari”. Aku berkata: “Berikanlah lebih, karena aku kuat dan muda”. Beliau menjawab: “Baiklah, khatamkanlah dalam waktu seminggu”. Aku berkata: “Berikanlah lebih, karena aku cukup kuat dan muda”. Tetapi beliau menolak.” (HR. Ibnu Majah)
           
            Abdullah Bin Amr termasuk sosok pemuda yang langka. Bagaimana mungkin dia bisa memanfaatkan usia mudanya hanya untuk beribadah, padahal biasanya setiap anak muda ingin menghabiskan masa jaya ini dengan berfoya-foya dan mengumbar nafsu syahwatnya. Tapi dia tidak termasuk pemuda yang terpancing dengan kemilau dunia yang memabukkan. Baginya, dunia adalah kepingan singkat perjalanan hidup manusia dari rangkaian perjalanan yang sangat panjang.
            Semangat Abdullah Bin Amr sangat kuat, sehingga bercita-cita menghabiskan seluruh umurnya hanya untuk beribadah. Tetapi Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat arif. Beliau tidak ingin Abdullah Bin Amr “termakan” oleh targetnya sendiri, dengan menumpahkan seluruh waktunya untuk membaca al-Qur’an. Sebenarnya Rasulullah SAW tidak melarang, namun beliau khawatir jika Amr nantinya merasa keberatan ketika usianya sudah lanjut.
Rasulullah SAW hanya menginginkan supaya dia bisa berlaku istiqamah tanpa harus memberatkan, karena petuah yang beliau berikan tidak muluk-muluk, cukup khatamkan al-Qur’an dalam rentang seminggu. Kalau itu bisa dilaksanakan secara berkesinambungan, manfaatnya sangat besar. Keistiqamahan jauh lebih bermakna daripada menunaikan ibadah dalam porsi besar tetapi tidak berkesinambungan. Secara tersirat, beliau Nabi menegaskan perlunya sikap moderat dalam beribadah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari golongan orang-orang yang istiqamah ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Jika kita belum bisa melakukan perbuatan baik bagi sesama, setidaknya semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mencintai orang yang melakukan kebaikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Dalam ke-Bhineka-an Perjalananan lahirnya Pancasila sangatlah panjang dan melelahkan, sebelum para founding father dari negara kita...