Mengajak Kebaikan Terhadap Sesama
Mahfud Ifendi
Ketahuilah bahwa amar ma’ruf dan
nahi mungkar adalah pokok agama. Ia adalah pekerjaan para Nabi, dan para
khalifah telah menggantikan mereka dalam tugas tersebut. Seandainya ia tidak
ada, niscaya kebodohan akan tersebar dan ilmu menjadi sia-sia.
Allah berfirman dalam surat
Attaubah ayat 71:
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ
بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ
Artinya ”dan orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, sebagian mereka
penolong bagi sebagian yang lain, mereka memerintah kebajikan dan mencegah
kemungkaran”
Imam Ghazali berkata: ayat
tersebut memberikan pengertian bahwa orang yang tidak menjalankan amar ma’ruf
dan nahi mungkar akan keluar dari golongan orang-orang mukmin.
Muhammad Bin Abdul Baqi al-Bazzar
telah mengabarkan kepada kami bahwa dengan sanadnya dari Abu Hurairah, ia
berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Sungguh
kalian memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau allah akan
menguasakan orang-orang jahat dari kalian atas orang-orang yang terpilih dari
kalian. Lalu orang-orang yang terpilih dari kalian berdoa dan tidak dikabulkan.”
Mengajak kebaikan terhadap
sesama dan mencegah sesuatu yang mungkar adalah wajib bagi makhluk dan tiap
muslim. Dari Abu Sa’id , dari Rasulullah SAW bersabda, “ Siapa dari kalian yang melihat kemungkaran, lalu ia mampu mengubah
dengan tangannya, maka hendaknya ia melakukannya. Jika ia tidak mampu dengan
tangannya, maka dengan lisannya. Bila ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan
itu selemah-lemahnya iman.”
Oleh karena itu kita sebagai
muslim yang baik sudah sewajarnya untuk selalu mengajak kebaikan kepada sesama.
Seseorang seharusnya ingkar terhadap kemungkaran dengan tangan, bila tidak
mampu maka cukup dengan lidah. Bila ada orang yang mampu menghentikan
kemungkaran dengan tangan dan satunya lagi mampu menghentikannya dengan lidah
maka bagi yang pertama diwajibkan bertindak sehingga menghentikannya dengan
tangannya. Bagi orang yang masih mampu menghentikan kemungkaran dengan tangan
tidak diperbolehkan menghentikannya dengan lidah. Untuk yang terakhir, ingkar
dengan hati merupakan kewajiban bagi orang mukallaf, tidak boleh dilepaskan
sama sekali. Bahkan ada segolongan ulama termasuk Imam Ahmad Berpendapat: “Tidak ingkar terhadap kemungkaran dengan
hati adalah perbuatan kufur”.
Al-Qurthubi berkata: “Allah menjadikan amar ma’ruf dan nahi
mungkar sebagai perbedaan antara orang-orang Mukmin yang sejati dan orang-orang
munafik.”
Selanjutnya, seyogyanya orang
yang amar ma’ruf harus bersikap lemah lembut, karena Allah Ta’ala telah
berfirman dalam QS. Thaaha ayat 44:
فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ
يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ
Artinya “Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun
AS) kepadanya (Fira’un) dengan kata-kata
yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut.”
Firman Allah di atas mensinyalir
kita bahwa dalam menyampaikan kebaikan, bahkan ketika kita menghadapi musuh
sekalipun, harus menggunakan etika yang baik, sopan santun dalam menyampaikan.
Bukan sebaliknya, mengajak berbuat baik kepada sesama, namun dengan cara-cara
yang arogan, keras dan kurang beretika.
Dan sudah menjadi keharusan
bahwa orang yang memerintahkan kebaikan harus menjaga diri dari apa yang
dicegahnya dan melakukan apa yang diperintahkannya. Artinya, ketika salah satu
di antara kita menyuruh untuk berbuat baik, sudah barang tentu kita lebih
dahulu melakukannya. Jika kita melarang sesuatu untuk tidak dikerjakan, maka
kita harus terlebih dahulu tidak mengerjakannya.
Abdul Awwal telah mengabarkan kepada kami dengan
sanadnya dari Umamah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat didatangkan seorang
laki-laki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia
berputar-putar seperti keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk
neraka berkumpul mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, ‘Wahai fulan,
apa yang terjadi padamu? Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan
melarang yang mungkar?’ Dia menjawab, ‘Benar. Aku dahulu memang memerintahkan
yang ma’ruf tapi aku tidak melaksankannya. Aku juga melarang yang mungkar
tetapi aku justru melakukannya.”
Inti dari sabda Nabi di atas,
tentunya dapat kita jadikan pedoman bahwa dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi
mungkar terlebih dahulu kita membersihkan jiwa dan hati, agar apa yang akan kita
ucapkan kepada sesama, semuanya sudah terimplementasi dengan baik pada diri
kita sebelumnya.
Perbuatan
Baik Bisa Memperpanjang Umur
Dari Rafi’ Bin Makits, Rasulullah SAW bersabda: “Akhlak yang bagus itu akan membawa
keberkahan, sedangkan akhlak yang buruk akan membawa caci maki dan cercaan.
Kebaikan akan menambah umur dan sedekah akan menghalangi orang mati dalam
keadaan yang jelek (su’ul khotimah).” (HR Ahmad).
Dalam hadits ini disampaikan rahasia
besar segala kebaikan. Bahwa kebaikan, apapun bentuknya, bisa memperpanjang
umur. Di samping itu, hadits ini pun seakan menjelaskan bahwa yang dimaksud
pemanjangan umur adalah pemanjangan maknawi. Artinya pemanjangan umur bukan
penundaan ajal. Sebab, ajal tidak bisa ditunda atau dimajukan; tiada yang berubah
melainkan bertambahnya keberkahan umur tersebut. Seperti halnya malam Lailatul Qadr, yang hitungan harinya
hanya satu malam, namun keberkahan dan makna kebaikan dari malam itu sama
dengan nilai kebaikan seribu bulan.
Senang Pada
Kebaikan Dan Pelaku Kebaikan
Dari Anas Bin Malik,
aku melihat para sahabat Rasulullah SAW menyenangi sesuatu yang lebih daripada
itu. (tentang hal ini) seseorang bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, ada seseorang mencintai orang karena amal kebaikan
yang dikerjakannya, padahal dia sendiri tidak mengerjakannya.’ Beliau Nabi bersabda:
‘Seseorang bersama orang yang dicintainya.” (HR. Abu Dawud)
Sesungguhnya setiap manusia
mencintai kebaikan. Tidak ada manusia yang suka pada keburukan. Kalaupun ada
manusia yang tergelincir pada lembah keburukan, lebih disebabkan karena faktor-faktor
yang bersifat eksternal. Hati nuraninya (faktor internalnya) terus mengikatnya
agar mencintai dan mengerjakan kebaikan. Tarik menarik inilah yang berkecamuk
dalam diri setiap insan.
Karenanya, setiap manusia harus
memupuk fitrah mencintai kebaikan itu. Tanpa pemupukan yang memadai, sulit
diharapkan bunga fitrah itu bisa tumbuh subur. Namun, ketika seseorang tidak
bisa merawatnya dan mengerjakan perbuatan baik secara paripurna, minimal dia
harus mencintai orang yang melakukan perbuatan baik. Sebab, siapapun yang
berdekatan dan bergaul dengan orang
baik, manfaat dari pergaulan tersebut bisa kembali pada dirinya sendiri.
Melalui hadits di atas, Rasulullah
SAW menegaskan, kalaupun seseorang tidak mengerjakan perbuatan baik, setidaknya
dia bisa terus menjaga kedekatannya dengan orang baik. Dengan begitu,
diharapkan dia bisa tertular menjadi baik, atau setidaknya terangkat statusnya
disebabkan keintimannya dengan orang baik tersebut.
Bagi para pemuda, dunia
pergaulan di abad modern yang kerap kali menyeretnya dalam lembah hitam hendaknya
perlu diwaspadai. Salah satu strategi membentengi diri agar tidak larut dalam
arus pergaulan negatif yang begitu deras yakni dengan merawat keakraban dengan
orang-orang baik, baik dalam urusan hal ini adalah Ulama’, Ustadz, Guru, dan
para arif bijaksana. Bersama mereka, kita akan mampu memagari diri dari
pengaruh-pengaruh nista.
Bersegera
Dan Berusaha Semaksimal Mungkin Dalam Kebaikan
Abdullah bin amr
berkata, aku mengumpulkan al-Qur’an dan membacanya sampai khatam dalam waktu
semalam. Rasulullah Saw bersabda: “Aku
khawatir umurmu PANJANG dan engkau merasa bosan. Maka sekarang khatamkanlah
al-Qur’an itu dalam waktu sebulan”. Aku menjawab: “Berikanlah lebih, karena aku
masih kuat dan muda”. Beliau menjawab: “Baiklah, khatamkanlah dalam waktu
sepuluh hari”. Aku berkata: “Berikanlah lebih, karena aku kuat dan muda”.
Beliau menjawab: “Baiklah, khatamkanlah dalam waktu seminggu”. Aku berkata:
“Berikanlah lebih, karena aku cukup kuat dan muda”. Tetapi beliau menolak.”
(HR. Ibnu Majah)
Abdullah
Bin Amr termasuk sosok pemuda yang langka. Bagaimana mungkin dia bisa
memanfaatkan usia mudanya hanya untuk beribadah, padahal biasanya setiap anak
muda ingin menghabiskan masa jaya ini dengan berfoya-foya dan mengumbar nafsu
syahwatnya. Tapi dia tidak termasuk pemuda yang terpancing dengan kemilau dunia
yang memabukkan. Baginya, dunia adalah kepingan singkat perjalanan hidup
manusia dari rangkaian perjalanan yang sangat panjang.
Semangat
Abdullah Bin Amr sangat kuat, sehingga bercita-cita menghabiskan seluruh umurnya
hanya untuk beribadah. Tetapi Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat arif.
Beliau tidak ingin Abdullah Bin Amr “termakan” oleh targetnya sendiri, dengan
menumpahkan seluruh waktunya untuk membaca al-Qur’an. Sebenarnya Rasulullah SAW
tidak melarang, namun beliau khawatir jika Amr nantinya merasa keberatan ketika
usianya sudah lanjut.
Rasulullah SAW hanya
menginginkan supaya dia bisa berlaku istiqamah tanpa harus memberatkan, karena
petuah yang beliau berikan tidak muluk-muluk, cukup khatamkan al-Qur’an dalam
rentang seminggu. Kalau itu bisa dilaksanakan secara berkesinambungan,
manfaatnya sangat besar. Keistiqamahan jauh lebih bermakna daripada menunaikan
ibadah dalam porsi besar tetapi tidak berkesinambungan. Secara tersirat, beliau
Nabi menegaskan perlunya sikap moderat dalam beribadah.
Semoga Allah menjadikan kita
termasuk dari golongan orang-orang yang istiqamah ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Jika kita belum bisa melakukan
perbuatan baik bagi sesama, setidaknya semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba
yang mencintai orang yang melakukan kebaikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar